Melayani Anda sesuai syariah dan sunnah dengan biaya terjangkau

Melayani Anda sesuai syariah dan sunnah dengan biaya terjangkau

Kenal Lebih Dekat dengan Siti Hajar, Hikmah Menjalani Rukun Sa’i

Kategori : Umrah, Haji, Ditulis pada : 24 April 2021, 03:46:05

Membahas mengenai ibadah haji dan umrah pastinya sangat menarik bagi seorang muslim, apalagi bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah ke Baitullah. Banyak hikmah yang bisa Anda petik dari perjalanan ibadah haji dan umrah. Selain meningkatkan spiritualitas Anda, Anda dapat memaknai rangkaian ibadah yang Anda kerjakan saat di Baitullah.

Terutama ketika menunaikan rukun-rukun haji dan umrah, salah satunya adalah sa’i. Sa’i merupakan rukun ketiga setelah ihram dan thawaf. Sama dengan rukun-rukun yang lain, sa’i mempunyai karakteristik khusus dalam pelaksanaannya. Istimewanya lagi, Anda bisa memetik hikmah dari sejarah mengapa sa’i jadi rukun yang tak boleh Anda lewatkan.

16.jpg

Photo by Mohamed Nohassi on Unsplash

Menurut bahasa, sa’i memiliki arti usaha. Sedangkan rukun sa’i yang kita kenal artinya berjalan cepat bolak-balik sebanyak 7 kali antara bukit Shafa dan Marwa, diawali dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwa.

Jarak antara bukit Shafa dan Marwa yaitu sejauh 400 meter, jadi total menempuh jarak  kurang lebih 3 km apabila bolak-balik sebanyak 7 kali. Tentunya, Anda harus mempersiapkan kesehatan tubuh sebelum melaksanakan rukun ini. Misalnya, olahraga dengan teratur seperti berjalan sekian langkah per hari, jogging atau lari setiap pagi, atau lainnya yang dapat meningkatkan kekuatan fisik Anda. Jadi fisik Anda jauh lebih kuat saat menunaikan rukun haji dan umrah seperti sa’i.

Sejarah Sa’i

Bila menilik sejarahnya, sa’i ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim saat diperintahkan oleh Allah SWT untuk pindah dari Palestina ke Makkah. Saat itu, adalah hal yang berat bagi Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan istri dan anaknya, Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah yang gersang nyaris tanpa kehidupan di sana.

Siti Hajar hanya pasrah berjalan dibelakang suaminya, pun ketika Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya di Makkah. Siti Hajar bingung dengan apa yang terjadi, bolak-balik ia bertanya pada Nabi Ibrahim yang enggan menjawab. Sampai ia bertanya, “Hendak kemanakah Engkau, wahai Ibrahim?” Akan tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab.

Lalu Siti Hajar bertanya, “Kepada siapakah kami ditinggalkan di lembah ini? Apakah Allah SWT yang memberimu perintah, wahai Ibrahim?” Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Ya, Allah yang memerintahku.” Dengan wajah yang berseri-seri kemudian ibunda Ismail menjawab, “Laa Yudhoiyyuna ya Allah,” yang artinya ‘Allah tidak akan menelantarkan kami.

Nabi Ibrahim pun pergi ke Palestina. Meninggalkan istri dan Ismail kecil di lembah gersang tersebut karena Allah SWT. Ia menyerahkan segala urusan pada Allah. Siti Hajar, sebagai istri yang shalihah juga taat kepada Allah SWT yakin bahwa dirinya akan dilindungi oleh Allah.

Selama berhari-hari ia berusaha untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang ia bawa. Sampai suatu hari perbekalannya sudah tak ada lagi, Ismail kecil juga terus menangis karena kehausan. Kemudian, Siti Hajar berusaha mencari air di antara dua bukit yaitu bukit Shafa dan bukit Marwa.

Siti Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwa tanpa tahu di mana letak sumber air, hanya fatamorgana yang ia lihat. Ia kesana-kemari sebanyak 7 kali, sembari terus berharap kepada Allah, yakin Allah akan datangkan pertolongan kepadanya. Tentu saja, Allah hadirkan pertolongan-Nya di saat yang tepat.

Tak disangka, Siti Hajar telah berjalan bolak-balik Shafa dan Marwa, tapi Allah justru hadirkan sumber mata air di bawah kaki kecil Ismail yang menendang-nendang, Sumber air tersebut sangat melimpah, bahkan hingga sekarang masih bisa Anda nikmati yang dikenal dengan Air Zam-zam. Sungguh luar biasa, jika Allah telah menghendaki apapun bisa saja menjadi kenyataan.

pexels-pixabay-221189.jpg

Foto oleh Pixabay dari Pexels

Nama Zamzam juga memiliki sejarah, disebut air zamzam karena sumber air tersebut terus memancar tanpa henti bahkan diumpamakan kota Makkah bisa tenggelam bila hal tersebut terus terjadi. Maka, Siti Hajar berucap “Zamzam, zamzam!” yang artinya, “Kumpullah, kumpullah!’ sehingga mata air tersebut tetap memancar tetapi sesuai kebutuhan.

Hikmah Rukun Sa’i

Belajar dari Siti Hajar, ada banyak hikmah yang dapat Anda petik dari rukun sa’i. Ada nilai-nilai positif yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut beberapa hikmah yang bisa Anda pelajari:

Belajar Tentang Keimanan

Siti Hajar merupakan salah satu hamba yang istimewa di hadapan Allah karena keimanannya. Ini terbukti dari respon beliau saat Nabi Ibrahim mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah karena perintah Allah SWT. Ia juga yakin bahwa Allah tak akan menelantarkannya, walaupun kenyataannya ia tinggal di tanah yang tandus saat itu.

Bersikap Tawakkal

Siti Hajar juga memperlihatkan betapa ia sangat tawakkal kepada penciptanya. Berbeda dengan pasrah, tawakkal merupakan sikap menyerahkan segala apa yang terjadi sesuai dengan kemauan Allah. Jadi, dalam tawakkal juga ada peran ikhtiar Siti Hajar di dalamnya. Tugas manusia adalah berikhtiar, tetapi soal takdir Allah yang menentukan. Sehingga tetap memasrahkan diri kepada Allah sebagai satu-satunya penolong dan Yang Maha Menghendaki.

Mendahulukan Ikhtiar

Seperti pemaparan di atas, tawakkal tetap disertai dengan usaha. Ibunda Siti Hajar mencontohkan bagaimana ia tiada berputus asa menemukan sumber air antara bukit Shafa dan Marwa. Ia tetap bergerak tiada henti, menyertai keimanan dan sikap tawakkalnya untuk terus berusaha. Sehingga Allah datangkan rahmat berupa mata air zamzam di bawah kaki Ismail kecil.

Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, Anda boleh berusaha dengan cara apapun selama itu dengan jalan yang diridhoi Allah. Akan tetapi, terkadang Allah mendatangkan penyelesaian dari arah yang tidak disangka-sangka. Tak selalu dari apa yang Anda harapkan, tapi tetap meyakini bahwa itulah yang terbaik versi Allah.

Ikhlas

Sebagai penutup, dari sa’i Anda bisa belajar tentang keikhlasan. Bagaimana Siti Hajar sangat ikhlas menjalani ketetapan takdir yang Allah berikan, taat kepada perintah-Nya dengan ikhlas tanpa mengeluh saat ditinggalkan Nabi Ibrahim, ikhlas membesarkan Ismail, dan seterusnya. Tanpa adanya rasa ikhlas, akan sulit menerima ketetapan Allah, sebab sifat manusia yang tak pernah puas.

Nah, itulah hikmah rukun sa’i yang bisa Anda pelajari dari kisah Siti Hajar. Semoga bisa meningkatkan keimanan Anda, juga semakin bersemangat saat menjalankan ibadah haji dan umrah. Semoga bermanfaat!

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id